Tulisan ini dibuat oleh Mama Reza untuk teman-teman Reza di SD. Reza memiliki adik bernama Lukman yang didiagnos Autis. Mama Reza mencoba menyampaikannya melalui tulisan ini agar anak-anak (dan orang dewasa tentunya) bisa memahami penyandang Autisme dan menyayangi mereka. Beliau membagi tulisan ini untuk pembaca Asahasuh.com.
________
Pagi itu terdengar di radio FeMale percakapan antara Paman Gery penyiarnya dengan Reza
Gery (G): Halo Reza, paman Gery boleh nanya nggak?
Reza (R): Boleh
G: Reza, kalau adek Lukman itu… Reza tahu nggak… kenapa?
R: Lukman ada autisnya…
G: O adek Lukman autis. Memang Reza ngerti, autis itu apa?
R: Mmm… agak ngerti dikit.
G: Kaya apa ngertinya, certain dong…
R: Itu kayak mmm… autis itu… apa yang… ehm eh nggak tau deh…
G: Ok, gini, kan tadi Reza bilang adek autis kan, tapi… Reza sayang nggak sama adek?
R: Sayang…
G: Beneeer?
R: Bener…
Anak-anakku murid SDIT Darul Abidin, tentunya kalian pernah mendengar istilah autis seperti yang dibicarakan Reza tentang adiknya diatas itu? Mungkin walau sering mendengar kalian suka bingung, apa sih sebetulnya autis itu? Sebetulnya seperti apa ya anak/orang yang autis itu?
Autis itu adalah kondisi/keadaan seseorang sejak lahir yang menyebabkan ia kesulitan untuk berkomunikasi maupun bersosialisasi. Sulit berkomunikasi seperti tidak bisa bicara, ataupun bisa bicara tapi sulit bertanya-jawab, sepertinya susah sekali ‘nyambung’nya. Sedangkan kesulitan sosialisasi bisa karena mereka berperilaku tertentu, sangat emosional, mudah marah karena hal-hal yang mungkin sepele bagi sebagian besar kita, bisa sangat terganggu misalnya dengan suara yang keras, sehingga kalau mendengar bel sekolah misalnya, dia langsung menutup kupingnya seperti sangat kesakitan.
Karena autis itu adalah kondisi/keadaan seseorang sejak lahir, autis bukanlah suatu penyakit yang menular, dan apa penyebab seorang anak menjadi autis belum ditemukan sampai sekarang.
Apa saja sih tanda-tandanya orang autis itu? Wah banyak sekali, karena autis pun banyak jenisnya. Ada autis yang berat, dimana penyandangnya tidak bisa berkomunikasi, susah dimengerti apa maunya, seringkali tantrum/mengamuk tanpa dapat dipahami sebabnya, dan
seperti tidak mengerti bahaya, bahkan menyakiti dirinya atau orang-orang disekelilingnya kalau sedang mengamuk. Mereka seperti tidak butuh orang lain, tidak mau menatap mata, dan melakukan kegiatan atau gerakan yang berulang-ulang tanpa capek dan bosan. Misalnya kalau bermain mobil-mobilan, mereka bukan menjalankan mobilnya, tapi hanya memutar-mutar ban mobil mainan itu. Teruus begitu, bisa sampai berjam-jam.
Tapi ada juga autis yang ringan, seperti Lukman, adiknya Reza. Walaupun sampai umur 2 tahun Lukman belum bisa bicara, tapi karena terus di terapi (diajarkan khusus) Lukman akhirnya bisa berbicara dan cukup baik walau kadang masih sulit menyampaikan maksudnya. Begitu juga dengan bersosialisasi. Dulu saat masih di playgroup, Lukman tidak suka masuk kedalam kelas, karena tidak suka kelas yang ramai. Dia lebih
suka diluar kelas, berlari-larian dihalaman, dan baru mau masuk kelas kalau sedang kosong.
Karena terus diajarkan dan diajak bergaul baik oleh guru maupun teman-temannya, Lukman sekarang bisa bermain bersama teman-teman sekolahnya, walau kadang masih lebih senang sendiri kalau merasa tidak nyaman. Begitu pula dengan kegiatan sekolah, kalau dulu Lukman harus selalu diberitahu, bahkan didampingi oleh shadow teacher (guru pendamping) sekarang Lukman sudah cukup mandiri. Datang kesekolah, menaruh tas dilocker, menulis nama untuk absensi, ikut kegiatan didalam kelas seperti teman-temannya, juga bisa makan sendiri saat makan bersama. Kalau dilihat sepintas, Lukman sama saja terlihat seperti teman-temannya, tidak terlihat kalau Lukman itu penyandang autis.
Selain yang berat dan ringan, ada juga autis yang sedang, dimana gejalanya ada diantara yang parah dan ringan. Karena banyak jenisnya inilah sulit bagi orang awam untuk mengetahui apakah seseorang itu autis atau tidak. Hanya ahli-ahli yang sudah terlatih yang bisa menyatakan apakah seseorang itu autis.
Kalau tadi Mama Reza lebih membahas soal Lukman disekolah, bagaimana dengan dirumah? Alhamdulillah sejak kecilnya Lukman terlihat dapat merasakan kasih sayang Papa-Mama dan kakaknya. Dia pun terlihat menyayangi keluarganya. Lalu karena sulit berkomunikasi, bersosialisasi, apakah Lukman suka diajak jika kami pergi ke acara keluarga, berlebaran, atau acara kantor Papanya? Jawabannya: Ya. Karena dengan seringnya Lukman diajak bersosialisasi, walaupun kadang ada kesulitan karena Lukman tidak suka tempat yang terlalu ramai, atau tempat yang berisik (misalnya acara yang ada sound systemnya) kami tetap usahakan agar Lukman ikut. Dengan begitu sedikit demi sedikit Lukman bisa menyesuaikan diri, sekarang ia cukup bisa berada ditempat ramai, dan menikmati kegiatan bersama.
Bagaimana dengan Reza, apakah suka bermain dengan Lukman? Jawabannya juga Ya. Karena justru dengan bermain bersama itulah Lukman banyak belajar dari kakaknya. Lukman belajar untuk main
bergantian, belajar untuk berbagi mainan, memang sih masih sulit dan Lukman masih sering marah jika harus berbagi. Reza juga sering mengajarkan pengetahuan umum kepada adiknya. Contohnya, Lukman senang sekali membaca peta dunia. Reza senang memberitahu adiknya itu mana Negara Itali, dimana benua Afrika, dan sekarang Lukman sudah canggih sekali kalau membaca peta dunia. Tidak hanya benua, Negara, kota-kotapun Lukman tahu dimana Jakarta, Paris, New York dan lain-lain.
Mudah-mudahan cerita Mama Reza ini dapat membuat anak-anakku murid SDIT Darul Abidin dapat lebih mengerti apa itu autis. Insya Allah dengan pengertian itu anak-anakku dapat lebih memahami bahwa anak-anak autis memang berbeda, tapi mereka juga umat manusia ciptaan Allah SWT yang perlu disayangi, dididik, dan diajak bermain bersama seperti anak-anak pada umumnya. Jazakillah khairan kasiran.
___
Tulisan-tulisan lain tentang Reza dan Lukman dapat dibaca di http://mamanya.wordpress.com/posts/